Pertelagahan Batik Nasional; Batik, Warisan Budaya Kerajaan Muara Takus

H. Dheni Kurnia

Catatan: H. Dheni Kurnia

BATIK, adalah kain khusus buatan (kerajinan) Indonesia. Bahkan United Nations of Educational, Scientific, and Cultural Organization (UNESCO), memutuskan bahwa pemilik batik “yang sah” adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia.

Meski negara-negara lain juga punya batik seperti Uganda, Djibouti, Nigeria, Kamerun, Afrika Selatan, China, Malaysia, Brunai, Vietnam, Filipina, India, Pakistan dan banyak lagi negara yang memiliki khasanah budaya batik, tapi UNESCO bilang; Emang gue pikirin. Ini punya Indonesia!

Tepatnya, sembilan tahun lalu (2/10/2009), UNESCO memutuskan bahwa batik masuk daftar “representative list of the intangible cultural heritage of humanity” atau daftar budaya tak-benda warisan manusia, dalam sidang ke-4 Komite Antar-Pemerintah/Negara yang diselenggarakan di Abu Dhabi. Bersama batik, juga diakui wayang, keris, noken, dan tari saman dari Aceh.

Saking senangnya Pemerintah Republik Indonesia atas keputusan UNESCO tersebut, melalui Kementerian Dalam Negeri, maka sejak sembilan tahun lalu diputuskan pula; setiap tanggal 2 Oktober ditetapkan sebagai Hari Batik Nasional. Seluruh Pegawai Negeri, BUMD/N, perbankan, swasta nasional, anggota DPR, sekolah, petani dan buruh kantoran, mulai dari pusat sampai kelurahan, “wajib” pakai batik.

Karenanya, setiap 2 Oktober (khususnya tiga tahun belakangan), Indonesia berubah jadi lautan batik. Bahkan warga negara asing yang bertugas di Indonesia, atau hanya sekadar jadi turis, pun nampak berbatikria. Motifnya, juga maragam-ragam. Ini dimaklumi, karena hampir semua daerah kini punya produksi batik sendiri-sendiri. Harganya juga beda kelas. Mulai dari Rp15-20 juta, sampai yang seharga Rp30-40 ribu di pasar rakyat. Bahkan ada pula yang mengenakan batik berumur sembilan tahun, persis seumur UNESCO menetapkan batik sebagai warisan budaya Indonesia 2009.

DI RIAU, seperti halnya di daerah lain di Indonesia, Hari Batik Nasional juga ditandai dengan mengenakan batik secara serentak. Khususnya di kantor-kantor pemerintah dan swasta. Sayangnya, masih ada beberapa instansi di Riau yang tidak mewajibkan memakai batik. Mereka masih menggunakan seragam atau atribut kantor masing-masing. Misalnya beberapa kantor perkebunan nasional dan swasta yg memang banyak di Riau. Alasan mereka, Batik bukanlah khasanah budaya asal negeri ini. “Batik berasal dari Jawa,” begitu alasan mereka.

Memang, dalam katalog sejarah Batik Nasional, batik Indonesia disebut-sebut berawal saat pemerintahan Kerajaan Majapahit abad 11-15 Masehi. Batik merupakan pakaian para raja dan keluarganya, yang kemudian berketurunan hingga raja raja Jawa berikutnya.

Sejak Majapahit didirikan, pakaian paling tren ketika itu adalah Batik; kain yang dirajah dengan cairan lilin menggunakan alat bernama ‘canting’ dan menghasilkan pola-pola tertentu pada kain. Kata batik dirangkai dari kata ‘mba’ yang berarti kain yang lebar dan kata ‘tik’ berasal dari kata titik. Kain tersebut kemudian digambar, sehingga menghasilkan pola-pola yang indah. Bukti bahwa Kerajaan Majapahit yang pertama kali menerapkan batik di Indonesia, bisa dilihat pada sisa-sisa peninggalan batik yang ada di wilayah Mojokerto dan Tulungagung yang merupakan bekas wilayah Kerajaan Majapahit.

Usai kejayaan Majapahit, menurut sejarah batik nasional, pola batik berlanjut ke masa keemasan Kerajaan Mataram, lalu Kasunanan Surakarta dan Yogyakarta. Namun, sesuai perkembangan zaman, jika dulu kerajinan batik hanya diperuntukkan bagi kaum bangsawan atau priyayi, belakangan batik sudah menjalar menjadi pakaian rakyat jelata. Ini dikarenakan batik lama kelamaan ditiru oleh masyarakat dan menjadikannya usaha “home industri” yang juga disukai bangsa bangsa di dunia.

Ahli dan peneliti batik Indonesia, Ismadi, mengatakan, batik memang berawal dari Jawa dan merupakan pakaian kebesaran raja raja Jawa sejak Kerajaan Majapahit didirikan. Namun, sekitar akhir abad ke-18, batik mulai dikenalkan kepada masyarakat di luar keraton. Sejak saat itu, motif batik berkembang dengan pesat. Tiga daerah yang sangat eksis memproduksi batik adalah Lasem, Solo dan Pekalongan.

Namun, pendapat Ismadi yang menegaskan batik Indonesia berawal dari Kerajaaan Majapahit dan raja raja Jawa berikutnya, dibantah oleh pemerhati sejarah Kerajaan Muara Takus, Kampar, Hikmat Ishak. Menurut Hikmat, kebudayaan membatik itu justru sudah ada di Kerajaan Muara Takus yang kini masuk wilayah Kabupaten Kampar Riau, pada abad ke-4 Masehi. Menurut Budayawan Riau ini, bukti bahwa batik sudah ada pada abad ke-4, terlihat dari beberapa relief yang ditemukan di sekitar percandian Muara Takus.

Di dalam ‘relief’ (atau fragmen arca dan inskripsi mantra, pahatan vajra, gulungan daun emas dengan permukaan ukiran berpahat bunga dan mantra) serta pecahan tembikar, ditemukan gambar atau lukisan dengan motif batik yang hingga saat ini, masih dipertahankan pembatik asal Muara Takus Kampar. “Hingga kini, masih ditemukan pembatik asal Muara Takus yang membuat batik dengan corak-corak seperti di dalam relief dan potongan tembikar yang ditemukan di areal candi. Batik ini diberinama Batik Muara Takus,” kata Hikmat, yang juga mantan wartawan Harian Kompas, serta Ketua Walhi (Wahana Lingkungan Hidup) Provinsi Riau.

Dia mengaku, produksi maupun promosi Batik Muara Takus, memang tak segencar batik di Jawa. Tapi, sejarah tidak boleh dipalsukan. Jika ada buku sejarah dan katalog nasional yang menyebutkan batik berawal sejak Kerajaaan Majapahit, itu adalah Sejarah yang membodohkan. “Bagaimana mungkin Majapahit di Abad ke-12 bisa lebih dulu membuat batik ketimbang Muara Takus yang sudah ada pada abad ke-4 Masehi,” tambahnya.

Hikmat lalu mengutip pendapat para pakar dan ahli sejarah purbakala, tentang keberadaan Muara Takus. Dikatakannya, Muara Takus adalah sebuah situs candi Budha yang dikelilingi oleh tembok berukuran 74 x 74 meter, yang terbuat dari batu putih dengan tinggi tembok ± 80 cm. Di luar arealnya terdapat pula tembok tanah berukuran 1,5 x 1,5 kilometer, mengelilingi kompleks ini sampai lke pinggir Sungai Kampar Kanan. Di dalam kompleks ini terdapat beberapa puluhan serpihan candi, maupun yang masih utuh diantaranya; Candi Tua, Candi Bungsu, Mahligai Stupa dan Palangka.

Di areal inilah dulu diperkirakan berdiri Kerajaan Muara Takus yang merupakan cikal bakal Kerajaan Sriwijaya. Para arkeolog menyebut, kerajaan ini diperkirakan ada sejak abad ke-4, meski ada pula yang menyebut abad ke-7. Namun candi ini telah ada pada zaman keemasan Sriwijaya, sehingga beberapa sejarahwan menganggap kawasan ini merupakan salah satu pusat pemerintahan dari Kerajaan Sriwijaya.

Selain Muara Takus, Hikmat juga mengatakan, corak batik juga ditemukan pada beberapa peninggalan Kerajaan Melayu Dharmasraya atau Kerajaan Melayu Jambi. Kerajaan ini, adalah sebuah kerajaan besar di Asia Tenggara yang berdiri sejak abad ke-5 hingga ke-13 Masehi, dan pernah ditaklukkan oleh Sriwijaya dan Majapahit.

Di bekas Kerajaan Melayu ini, juga terdapat areal Situs Percandian Muara Jambi, seluas lebih kurang 80 Ha. Beberapa candi, hingga kini masih ada dan utuh serta menyimpan sejarah yang sangat berharga tentang kerajaan-kerajaan besar di Indonesia masa lalu. Di sini juga ditemukan corak gambar batik, yang merupakan pakaian kebesaran raja raja Melayu. “Juga, hingga kini, batik Jambi masih terus bertahan dan berproduksi. Coraknya bertema durian pecah, manggis bergantung, belah rotan dan lainnya,” kata Hikmat.

Dikatakannya, promosi batik Jambi bercorak unik ini, di zaman Gubernur Jambi dijabat H Abdurrahman Sayuti, dibantu istrinya Lily Syarif dan Seniman Tari Tom Ibnur (Th 1995-an) beberapa kali dikenalkan ke Eropa, Amerika dan negara-negara Timur Tengah. Batik ini diberinama Batik Muara Jambi, karena lokasi atau pusat kerajaan Melayu serta areal percandian tersebut terletak di sebuah desa yang bernama Muara Jambi.

Dalam penelitian Hikmat, ketika zaman keemasan Kerajaan Sriwijaya (kini masuk wilayah Palembang Sumatera Selatan) abad ke 7 hingga 13 M, kain batik juga mendapatkan tempat tersendiri bagi pembesar Istana. Diperkirakan kain batik “diimpor” teknologinya dari Muara Takus dan Muara Jambi, yang merupakan wilayah kekuasaan Sriwijaya. Dalam hubungan perdagangan dengan China, Sriwijaya mengekspor komoditas perkebunan, seperti cengkeh, pala, lada, timah, rempah-rempah, emas dan perak, termasuk tukar menukar cendera mata berupa kain batik yang dibarter dengan porselin, kain katun, atau kain sutra.

Selain itu, sebagai kerajaan dengan pelabuhan dagang terbesar di Sumatera, Sriwijaya sering didatangi para pedagang mancanegara tidak hanya dari China. Tapi juga dari India, Malaka, Ayothaya, Pulau Jawa dan lainnya. Sriwijaya juga menjadi daerah persinggahan pedagang maupun rohaniawan yang belajar agama Budha. Ini dibuktikan dengan penelitian, bahwa sejumlah kapal beragam jenis, bertambat
di pelabuhan Sungai Musi.

“Dan, diperkirakan salah satu komoditas dagang yang menarik perhatian pedagang mancanegara, maupun mereka yang singgah serta belajar di Sriwijaya adalah kain batik,’ kata Hikmat. Sayangnya, lanjut Hikmat, kain batik bukanlah benda yang menjadi penelitian utama para pakar sejarah maupun arkeolog dan ahli purbakala di Indonesia. Batik ketika itu, kalah pamor dari kain sutra buatan China.

Hikmat melanjutkan, pada tahun 1377 M, Sriwijaya ditaklukkan oleh Kerajaan Majapahit. Para pembesar dan keluarga istana “dibantai” oleh pasukan Gajahmada. Hak-hak rakyat dikebiri dan menemui ajal bila melawan kekuasaan. Sesiapa yang tidak suka dengan kondisi ini, dipersilahkan meninggalkan Bumi Sriwijaya. Dengan demikian, berakhirlah kejayaan Sriwijaya. Semua kekayaan milik Sriwijaya, dipindahkan ke pusat Kerajaan Majapahit di Trowulan (kini masuk wilayah Jawa Timur), termasuk teknologi sederhana dalam mengolah kain batik.

Pada zaman Kerajaan Majapahit, teknologi kain batik mencapai taraf gengsi tertinggi. Artinya kain ini hanya boleh dikenakan oleh pembesar dan keluarga Istana. Rakyat jelata maupun “abdi dalem” dilarang keras menggunakan kain batik, meskipun mereka yang membuatnya. Menurut Hikmat, batik kemudian menjadi pakaian resmi pembesar kenegaraan Majapahit.

Syahdan, kata Hikmat Ishak, inilah yang membuat para peneliti batik di Indonesia, bersepakat bahwa batik berasal dari Kerajaan Majapahit dan raja raja Jawa berikutnya. Bahkan dalam katalog nasional tentang batik, sudah dipatenkan, bahwa batik termasuk khasanah kebudayaan milik orang Indonesia yang berawal dari Kerajaan Majapahit.

“Padahal, jika kita mau belajar sejarah yang benar, batik bermula dari kerajinan tangan penduduk Kerajaan Muara Takus di Kampar Riau, kemudian berkembang pesat di Kerajaan Melayu Jambi serta beredar luas di zaman empayar Sriwijaya. Namun dalam perkembangan waktu, Majapahit yang disebut sebagai asal batik Indonesia,” terang Hikmat.

MEMANG, apapun yang kemudian menjadi pendapat para pakar, ahli dan peneliti tentang batik, termasuk pertelagahan tentang asal muasal batik, mungkin perlu ada pengajian yang mendalam di negeri ini. Pendapat Hikmat Ishak tersebut, perlu pula diuji kebenarannya dengan penelitian ulang yang mendalam. Yang pasti, hari ini dan sejak sembilan tahun lalu, UNESCO sudah memutuskan bahwa Batik memang merupakan khasanah kekayaan budaya asli milik Indonesia. Sementara, dari mana asal batik itu sendiri; Wallahualam bissawab!

Saya sendiri, sebenarnya tidak suka memakai batik. Karena corak dan warna-warninya menurut saya tidak “fashionable”. Sangat purbakala dan seperti umbul-umbul di pesta pacuan kuda. Makanya (menurut saya) sampai kapanpun batik tidak akan pernah menjadi fashion kelas dunia. Tapi setelah membaca sejarah batik yang unik dan Indonesia juga menetapkan 2 Oktober sebagai Hari Batik Nasional, saya pun terpaksa memakainya. Karena saya takut dianggap tidak nasionalis dan melawan kebijakan pemerintah. Entahlah!

Dheni Kurnia; Wartawan, Sastrawan dan Olahragawan.

Subscribe

Thanks for read our article for update information please subscriber our newslatter below

No Responses

Tinggalkan Balasan