AKBP Jufnedi, Sang Polisi Ninik Mamak Humanis yang Masuki Masa Purna Bhakti

AKBP Jufnedi. foto.dok

Padang, Mimbar – Terhitung tanggal 2 Juni 2020, Kasubdit I Dir Intelkam Polda Sumbar, AKBP Jufnedi memasuki masa pensiun.  Polisi ninik mamak yang telah bertugas sejak 1982 (37 Tahun Lalu), resmi memasuki masa Purna Bhakti dan kembali menjadi rakyat biasa, setelah Polda Sumbar menggelar Upacara Pedang Pora guna melepas anggota Polri yang memasuki purna bhakti.

AKBP Jufnedi memang dikenal sebagai polisi humanis dan humoris serta tak membedakan kawan. Karena itu wajar banyak orang menggelarinya Polisi Ninik Mamak. Sangat jarang seorang perwira mau berbaur bersama masyarakat biasa, namun AKBP Jufnedi adalah personil Polri yang senantiasa selalu berada di lingkungan masyarakat, baik kedai, rumah ibadah maupun tempat lainnya

Lebih dari setengah kedinasannya dihabiskan pada bagian intel, sehingga sangat jarang Jufnedi ditemui memakai atribut  Kepolisian, sehingga banyak orang terkejut kalau sebenarnya dia sedang berbincang dengan anggota Kepolisian.

Baca Juga:  Komisi Informasi Warning Badan Publik di Sumbar

Jufnedi sudah malang melintang di Kepolisian Republik Indonesia, dari Kasat, Kapolsek, Wakapolres terakhir di subdit 1 Dir Intel Polda Sumbar yang digawanginya sampai memasuki masa pensiun.

Salah seorang pengurus partai Aguswanto, mengatakan, sangat jarang seorang perwira menengah mau duduk dan ngobrol di warung kecil, seperti AKBP Jufnedi.

“Jufnedi itu Polisi ninik-mamak, kalau beliau berkenan pasti banyak partai yang mau mengambil menjadi pengurus di partai, karena beliau sosok sangat humanis, humoris dan cerdas,” tutur Agus.

Ditambahkannya, selama bertugas di Kepolisian, Jufnedi banyak membantu masyarakat, khususnya dalam memberi pemahaman tentang hukum dan rasa kemanusiaan sehingga hidup bisa lebih tertib serta lebih nyaman.

Baca Juga:  Menteri Basuki Terima Penghargaan Outstanding Minister pada Bisnis Indonesia Award 2019

Sekaitan Purna Bhakti, AKBP Jufnedi mohon pamit pada semua lapisan masyarakat, baik organisasi agama, sosial, politik, pemuda dan masyarakat, karena selama ini sering berkomunikasi dan berdiskusi, sehingga bisa saja ada hal disengaja atau tidak yang melukai, ia meminta maaf.

“Saya mohon diri dan minta maaf kepada semua lapisan masyarakat serta organisasi dan instansi, baik ormas, agama, pemuda dan politik, juga masyarakat banyak, karena ada sesuatu yang saya sengaja atau tidak sudah menyakiti,” tutur Jufnedi.

Ditambahkannya, memasuki masa Purna Bhakti bukan berarti memutus hubungan silaturahmi, meskipun secara kedinasan telah berakhir.

“Dinas saya memang sudah berakhir, namun secara pribadi silaturahmi harus tetap dijaga, karena itu amanah agama,” tuturnya mengakhiri. (ms/rls/ald)

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.