Darurat Covid-19, Prof. Djohermansyah Tunda Launching Buku ‘Koki Otonomi’

Jakarta, Mimbar — Pakar Otonomi Daerah, Prof. H. Djohermansyah Djohan, MA, menunda launching buku biografinya yang berjudul  ‘Koki Otonomi’. Semula, launching buku karyanya bersama Joserizal ini diagendakan pada 25 April 2020, tapi karena faktor darurat Covid-19 tersebut, ditunda hingga batas yang belum ditentukan.

Penundaan itu terkait dengan surat Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Doni Monardo yang menerbitkan Surat Keputusan Nomor 13A, terkait perpanjangan masa darurat bencana akibat virus corona (Covid-19) hingga 29 Mei 2020.

“Ya. Terpaksa harus cari hari lain,” ujar Prof Djo kepada wartawan, Rabu (18/03/2020).

Pakar otonomi daerah ini mengaku telah merampungkan buku biografinya yang berjudul “Koki Otonomi : Kisah Anak Sekolah Pamong”. Saat ini rancangan buku tengah dalam proses editing untuk naik cetak oleh salah satu penerbit terkenal di Indonesia.

“Penulisan buku ini makan waktu setahun lebih. Saya dibantu Jose Rizal, penulis buku Sang Abdi Praja yang juga spesialis menulis buku-buku biografi. Sekarang ia menjadi pengajar di IPDN. Rencananya, kami akan launching pada 25 April 2020, bertepatan dengan HUT Otonomi Daerah. Sebenarnya sudah pas ini, Buku Koki Otonomi dilaunching pada hari otonomi.” ujar Dirjen Otonomi Daerah Kemendagri 2010-2014 ini.

Baca Juga:  786 Bilik Huntara Segera Dihuni Warga Terdampak Bencana di Palu, Sigi dan Donggala

Akan tetapi, lanjut Guru Besar IPDN ini, manusia hanya bisa berencana, Tuhan yang memutuskan segalanya. “Saya mematuhi kebijakan pemerintah, agar dalam masa darurat ini tidak mengadakan pertemuan yang mengumpulkan orang banyak. Sehingga acara launching buku Koki Otonomi ini kami putuskan untuk diundur sampai situasi yang memungkinkan.” ungkapnya.

Dari respon masyarakat yang beredar, Buku Koki Otonomi kini menjadi perbincangan hangat publik terutama oleh para praktisi pemerintahan dan kalangan akademisi. Hal ini berhubung sangat minimnya buku para tokoh yang menuliskan kisah hidupnya dalam bidang pemerintahan. Kebanyakan buku biografi yang beredar di toko buku adalah buku yang mengisahkan ketokohan para politisi dan pengusaha.

“Ya buku biografi tentang tokoh Pamong Praja cukup minim,” ungkap Pj. Gubernur Riau 2013-2014 ini. “Banyak murid saya dan rekan-rekan semasa bertugas dulu menyarankan agar saya mengisahkan pengalaman hidup yang tak pernah diungkap ke publik. Bagaimana pemerintahan waktu saya kecil, kebijakan pemerintahan semasa saya di bangku sekolah, gejolak politik yang terjadi semasa kuliah, yang secara keseluruhan membentuk sikap dan pemikiran saya bahwa otonomi daerah adalah sebuah jawaban tepat bagi kondisi geografis Indonesia yang luas dan beragam etnis ini,” tambahnya.

Baca Juga:  Hj. Emma Yohanna Bicara Penguatan Nilai Pancasila Dihadapan Majelis Taklim Indonesia

Lebih jauh Presiden i-Otda ini berpendapat, bahwa kesadaran akan luas dan beragamnya budaya di Indonesia itulah, maka desain dan penyelenggaraan pemerintahan lokal harus berdasar pada karekteristik daerah, kebutuhan masyarakat, dan nilai-nilai kearifan lokal yang telah hidup sejak dulu di daerah tersebut,

“Tidak bisa disamakan. Nah, karena itulah saya mengambil judul ‘Koki Otonomi’, sebab secara filosofi, seorang koki adalah pelayan yang harus mengerti dan memuaskan selera pelanggan. Pelanggan mau makan apapun, koki yang handal harus pandai meraciknya. Di samping itu, hobi saya sejak kecil memang suka makan, ada kisahnya itu… Wah, kalau saya ceritakan semua nanti Anda tak mau lagi membeli buku saya…tunggu tanggal mainnya aja deh…” tutup Prof Djo sembari menebar senyum. (ms/rls/ald)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *