Empat Tahun Nagari Madani, Pengamalan ABS-SBK Tertanam Kuat di Tengah Masyarakat Agam

 

 

Agam, Mimbar – Guna mewujudkan karakter masyarakat yang madani, Pemeritah Kabupaten Agam gencar menggalakan Gerakan Nagari Madani sejak empat tahun terakhir. Sejak dicanangkan, semarak kehidupan sosial masyarakat setempat sudah merujuk kepada nilai-nilai Adat Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah (ABS-SBK).

Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Nagari (DPMN) Kabupaten Agam, Teddy Martha, S.STP menuturkan untuk mewujudkan visi Agam Mandiri dan Berprestasi yang Madani, sejak tahun 2017 Pemerintah Kabupaten Agam melahirkan kebijakan berupa Gerakan Nagari Madani.

“Adapun maksud gerakan ini adalah untuk mewujudkan pemahaman dan pengamalan nilai-nilai keislaman dan nilai ABS-SBK guna menciptakan karakter masyarakat madani yang berpedoman kepada Perbub Nomor 74 tahun 2016,” ujarnya saat ditemui di ruang kerjanya, Kamis (26/11/20).

Dipaparkan lebih lanjut, sejak digalakan pada 2017, Gerakan Nagari Madani menunjukan keberhasilan yang sangat baik. Di samping peningkatan signifikan level nagari madani setiap tahunnya, kehidupan keagamaan di tengah masyarakat juga semakin semarak.

“Keberhasilan pelaksanaan gerakan ini, tidak lepas dari komitmen kepala daerah dan wakil kepala daerah, serta ditunjang usaha bersama sejumlah OPD, Pemerintah Kecamatan hingga ke tingkat nagari,” paparnya.

Berdasarkan hasil evaluasi dan assement pelaksanaan Gerakan Nagari Madani, Teddy menyebut terdapat peningkatan yang signifikan implementasi 43 indikator Nagari Madani yang tertuang pada Perbub Nomor 74 tahun 2016.

Adapun sejumlah indikator utama gerakan Nagari Madani terdiri dari 7 kriteria. Pertama, optimalisasi pendidikan informal terutama Al-quran. Kedua, peningkatan peranan masjid dan surau sebagai sentra kehidupan masyarakat.

Baca Juga:  Kementerian PUPR Gelar Simulasi Evakuasi

Ketiga, pelaksanaan perlindungan atas kampung dan masyarakat nagari. Keempat, peningkatan rasa kepedulian sosial ukhuwah islamiyah, kekeluargaan dan gotong-royong. Kelima, penerapan adat, seni budaya dan olah raga yang sesuai dengan nilai ABS-SBK.

Keenam, peningkatan peran serta lembaga dan organisasi masyarakat. Ketujuh, peningkatan kesalehan individu dan sosial.

“Kriteria-kriteria tersebut mempunyai item dan poin masing-masing, nanti akan diakumulasikan untuk menentukan suatu nagari sudah berhasil menggerakan nagari madani atau belum,” terangnya.

Di awal penerapannya, pihaknya memonitoring pelaksanaan Gerakan Nagari Madani dengan memasukan 82 nagari ke dalam lima level. Disebutkan level-level tersebut diberi skor, meliputi skor 0-85 untuk level I, 86-110 untuk level II, 111-130 untuk level III, 131-170 untuk level IV dan 171-215 untuk level V.

Pada tahun 2017, sebanyak 38 nagari berada di level I, 28 nagari di level II dan 16 di level III. Sementara belum ada nagari yang berhasil berada di level IV dan V.

“Namun, pada 2018 hasil assesment menujukan peningkatan yang signifikan dimana sebanyak 13 nagari mencapai level IV dan 1 nagari di level V. Tahun 2019 meningkat lagi, sehingga 37 nagari berada di level IV dan 8 nagari berada di level V,” sebutnya.

Baca Juga:  Sutan Riska-Dt. Labuan Resmi Pimpin Kabupaten Dharmasraya

Dikatakan, setiap tahun pihaknya merangkum sejumlah kekurangan dan kelemahan yang belum dipenuhi suatu nagari. Sehingga, tukasnya, di bawah koordinator camat, nagari akan berupaya meningkatkan pencapaian level yang lebih baik.

“Pencapaian level ini juga tidak terlepas dari dukungan pemerintah daerah bersama stakeholder serta peran ulama, ninik mamak, dan tokoh masyarakat,” ucap Teddy.

Secara garis besar, sambungnya, sejak 2017 penerapan 7 kriteria yang ditentukan memang masih memiliki kekurangan di 82 nagari. Namun, pada 2019 kekurangan tersebut sudah semakin membaik.

Pihaknya mencontohkan perbaikan pada kriteria optimalisasi pendidikan informal terutama Al-quran. Terjadi penurunan buta baca tulis Al-quran dari tahun 2016 sebanyak 752 orang menjadi 458 orang pada 2019 atau berkurang sebesar 39 persen.

Selama pelaksanaan Gerakan Nagari Madani, pihaknya menyimpulkan terjadi peningkatan yang signifikan penerapan nilai ABS-SBK di kehidupan sosial masyarakat. Dikatakan hal itu terjadi karena adanya sokongan anggaran nagari terutama pada kriteria yang masih mengalami kelemahan.

Sungguh begitu, pihaknya berharap Gerakan Nagari Madani dapat terus berlanjut dan ditingkatkan. Kedepan, semua pihak dapat menjaga komitmen dalam melanjutkan perwujudan Gerakan Nagari Madani.

“Meski sudah berjalan baik, bukan berarti kegiatan ini selesai. Gerakan Nagari Madani seharusnya tidak pernah selesai karena ukuran atau standar yang akan dicapai juga terus meningkat,” ujarnya. (Ms/RiL)

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.