Hj Nevi Zuairina Minta Ada Transformasi Kesehatan dan Pariwisata di KEK Sanur Bali

Anggota DPR RI Komisi VI, Hj. Nevi Zuairina. (foto/dok)

JAKARTA, mimbarsumbar.id – Anggota DPR RI Komisi VI, Hj. Nevi Zuairina menyoroti Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Kesehatan Sanur di Bali tengah menyongsong fase baru dalam perkembangan sektor kesehatan dan pariwisata Indonesia.

Menurutnya, proyek besar ini dipimpin oleh PT Pertamina Bina Medika-Indonesia Healthcare Corporation (IHC), Holding RS BUMN, yang menggagas pembangunan Bali International Hospital (BIH), sebuah rumah sakit bertaraf internasional mesti dapat mengakomodir kepentingan rakyat secara menyeluruh.

Anggota FPKS ini meminta agar kolaborasi strategis dengan Mayo Clinic, lembaga kesehatan ternama dari Amerika, menjadikan BIH sebagai titik fokus dalam pemberian pelayanan kesehatan berkualitas tinggi. Tujuan utamanya adalah untuk melayani kebutuhan medis turis domestik dan asing yang berlibur di Bali.

“Saya menekankan pentingnya proyek ini dalam memajukan industri kesehatan Indonesia. Kami di komisi VI mendorong agar kementerian BUMN melalui IHC berkomitmen untuk menghadirkan standar layanan kesehatan kelas dunia di Indonesia, khususnya di Bali, yang merupakan destinasi pariwisata global,” ujarnya dalam kesempatan rapat dengan Kementerian BUMN.

Anggota Badan Anggaran ini menyampaikan, bahwa BIH mesti dirancang dengan teknologi medis tercanggih dan memiliki pusat keunggulan di berbagai bidang, termasuk Cardiology, Oncology, Neurology, Gastroenterology, dan Orthopedics. Fasilitas ini juga dilengkapi dengan pusat Medical Check Up dan diagnostic center yang lengkap.

“Proyek ini tidak hanya mencakup pembangunan rumah sakit, tetapi juga pengembangan area sekitar. Kawasan Ekonomi Khusus Sanur akan dikembangkan menjadi destinasi kesehatan dan pariwisata kelas dunia, dilengkapi dengan hotel, resort, ethnobotanical garden, dan convention center,” jelas Hj. Nevi Zuairina.

Anggota DPR RI asal Sumatera Barat ini menambahkan, bahwa dengan pembangunan KEK Kesehatan Sanur, diharapkan terjadi pergeseran tren kunjungan warga Indonesia untuk berobat ke luar negeri menjadi lebih memilih Bali. Ini tidak hanya akan menghemat devisa, tetapi juga meningkatkan daya tarik Bali sebagai destinasi turis.

Namun, lanjut Nevi, ada beberapa tantangan yang harus dihadapi. Salah satunya adalah persiapan sumber daya manusia yang berkualitas, baik tenaga medis maupun non-medis, untuk mengoperasikan fasilitas ini. Kerja sama dengan institusi kesehatan internasional menuntut standar yang tinggi dalam pelayanan dan operasional.

Pertanyaan juga muncul dari politisi perempuan PKS ini mengenai infrastruktur pendukung lainnya, seperti tempat peribadatan dan sistem pengamanan, terutama dari bencana alam seperti tsunami, mengingat lokasi KEK yang berdekatan dengan pantai.

Selain itu, lanjutnya, terdapat tantangan dalam memastikan ketersediaan listrik yang stabil, mengingat kebutuhan listrik di Bali yang selama ini bergantung pada suplai dari Pulau Jawa. Ini menjadi aspek kritis dalam kelancaran operasional KEK Sanur.

“Pekerjaan yang menjadi tantangan akhir yakni, terdapat usaha promosi intensif oleh PT IHC untuk memperkenalkan RS BIH ke pasar internasional, khususnya negara-negara yang warganya banyak berlibur ke Bali. Strategi promosi ini diharapkan akan memaksimalkan penggunaan fasilitas saat peresmian RS BIH pada April 2024,” ungkap Nevi mengharapkan.

Proyek ini, secara keseluruhan, tidak hanya diharapkan menjadi tonggak baru dalam sektor kesehatan Indonesia, tetapi juga sebagai magnet baru dalam industri pariwisata Bali dan Indonesia pada umumnya. (ms/*/ald)