Kadishut Sumbar Dukung Pengembangan Madu Lebah Trigona Sawahlunto

Sawahlunto, Mimbar — Pengelolaan hutan dari timber extraction menuju sustainable forest management, hasil hutan bukan kayu (HHBK) atau Non Timber Forest Products (NTFP) memiliki nilai yang sangat strategis. Salah satunya adalah menggiatkan budidaya lebah madu trigona, seperti yang dilaksanakan Kelompok Tani Hutan (KTH) Kayu Gadang Sawahlunto.

Kepala Dinas Kehutanan Provinsi Sumbar, Yozawardi Usama Putra mengaku telah melaksanakan kunjungannya, Sabtu (9/1/2021) ke KTH Kayu Gadang, pimpinan Heri Setiawan. Kunjungan Kadis Kehutanan dan rombongan disambut Wakil Walikota Sawahlunto, Zohirin Sayuti, karena Heri Setiawan yang masih muda tentu memotivasi kalangan milenial Sawahlunto lainnya.

“Fokus kami ke Sawahlunto akhir pekan kemarin untuk mendorong pengembangan lebah madu dalam upaya meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar hutan, sekaligus menyelamatkan keanekaragaman hayati serta menambah tutupan hutan dan lahan, katanya kepada wartawan di padang, Senin (11/1).

Baca Juga:  Wako dan Kadis PMD Sumbar Pantau Pilkades Serentak Kota Sawahlunto

Apalagi, kata Yozawardi, dukungan dari Pemko Sawahlunto melalui Wawako, Zohirin Sayuti untuk pengembangan budidaya lebah madu trigona ada perhatian yang serius.

“Saat kunjungan itu Bapak Wawako Zohirin Sayuti beserta istri sangat luar biasa. Kami bersama-sama mengunjungi salah satu lokasi budidaya lebah madu dan mencoba langsung cara memanennya,” ucapnya.

Yozawardi alumnus IPB ini mencatatkan budidaya lebah madu pada KTH Kayu Gadang, sudah terdapat 300 kotak lebah, terdiri dari 50 kotak Trigona thoracica dan 250 kotak Trigona itama.

“KTH Kayu Gadang memproduksi madu 50 kg/bulan dan propolis 50 kg/bulan. Pada saat puncak musim bunga terutama bunga durian, produksi madu bisa mencapai 70 kg/bulan. Pada dua KTH lainnya di Sawahlunto juga sudah dibudidayakan sebanyak 200 koloni,” terangnya.

Baca Juga:  Pemilihan Pengurus PAC PP se-Sawahlunto Tepat di Hari jadi Kota

Sementara itu Heri Setiawan mengungkapkan bahwa selama pandemi covid produksi madu trigona laris di pasaran lokal dan nasional.

Heri Setiawan menjelaskan 3 KTH di Sawahlunto yang telah mengembangkan budidaya lebah madu. Penyelamatan keanekaragaman hayati jenis T. thoracica dan T. itama yang terdapat di hutan Sumatera Barat perlu dilakukan dan selanjutnya dikembangkan, untuk meningkatkan pendapatan masyarakat sekitar hutan dan menambah tutupan hutan/lahan. (ms/age)

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.