Kato Nan Ampek: Etika Tutur Sopan Santun Minangkabau

Alya Antasya. (foto/dok)

Oleh: Alya Antasya, (Mahasiswi Jurusan Sastra Minangkabau, Fakultas Ilmu Budaya, Universitas Andalas)

Dalam adat Minangkabau, kato nan ampek adalah sebuah tutur kata atau Bahasa yang diturunkan secara turun temurun oleh nenek moyang mereka. Kato nan ampek sendiri merupakan tata cara berbahasa yang sopan yang mengatur Masyarakat Minangkabau dalam bergaul atau berkomunikasi dalam satu nagari maupun nagari lainnya. Kato nan ampek ini merupakan sikap dan kebudayaan minang yang merupakan norma penting dalam kehidupan Masyarakat, yang menjelaskan tata cara berbicara Masyarakat Minang yang dianjurkan di Minangkabau. Dalam budaya di Minangkabau, kato nan ampek dijadikan sebagai acuan Masyarakat Minangkabau untuk menjaga standar kesantunan dan kesopanan dalam berbahasa.
Sejalan dengan berkembangnya zaman pada saat ini, orang Minang mulai terpengaruh dengan kebudayaan yang telah mengglobal. Hingga pengaplikasian kato nan ampek di Masyarakat sering sekali dilupakan. dengan Karena adanya desakkan dari pemakaian Bahasa Indonesia yang merupakan Bahasa kedua orang Minangkabau sebagai Bahasa nasional yang kuat, sebagai Bahasa pemersatu keragaman kebudayaan Nusantara. Ini menjadi penyebab utama bahasa Minangkabau mulai terpinggirkan. Karena pada aspek kehidupan dituntut oleh pekerjaan dll. Hal ini sangat bertentangan dengan falsafah orang Minangkabau, karena pada dasarnya itu merupakan seni berbahasa sopan santun di minangkabau.
Sehubungan dengan kesantunan dalam berkomunikasi, dalam adat Minangkabau terdapat dua dasar atau pedoman yang harus dipelajari salah satunya yang sesuai dengan etika Kato Nan Ampek dalam budaya Minangkabau. Yaitu:
Langgam kato yaitu aturan atau tata krama berbahasa dalam Masyarakat Minangkabau dalam berkomunikasi antar sesama. Langgam kato menuntun anak kemenakan di Minangkabau untuk bertutur secara baik dan benar kepada orang yang lebih tua (kato mandaki), kepada orang yang lebih rendah (kato manurun), kepada orang yang sama besar (kato mandata), dan kepada orang yang kita kenal yang memiliki gelar seperti niniak mamak (kato melereng).
Sumbang Duo Baleh, yang artinya adalah dua belas perkara yang harus dijauhi anak kemenakan di Minangkabau. Diantaranya adalah sumbang bakato atau sumbang mangecek artinya jagan sampai berbicara pada saat yang tidak tepat atau berbicara yang tidak sesuai dengan waktunya. Contohnya saat para ninik mamak atau pemuka adat yang sedang bermusyawarah lalu ada anak kecil yang ikut-ikutan menyela pendapat ninik mamak yang sedang berbicara.
Filsafat adat Minangkabau juga menekankan nilai-nilai etika dalam berkomunikasi, yang diatur dalam filosofi Kato Nan Ampek. Dalam budaya Minangkabau dikenal empat cara bertutur yang disebut dengan Kato Nan Ampek istilah lainnya adalah langgam kato, yaitu kato mandata, kato madaki, kato manurun, dan kato mareleng. Jika ada orang Minangkabau yang tidak bisa menggunakan tuturan tersebut sesuai dengan alur dan budaya yang berlaku, maka orang tersebut akan dikatakan “indak tau diampek” maksudnya tidak tau akan hal yang empat artinya orang tersebut tidak mempunyai sopan santun, tidak beradat, tidak bermalu serta tidak beradab.
Sementara dalam peribahasa Minangkabau juga diungkapkan “manusia tahan kias, kerbau tahan palu”, maksudnya manusia harus paham dengan kata kiasan berbeda dengan hewan dipalu dulu baru mengerti. Adat Minangkabau mempunyai prinsip tentang ajaran budi pekerti dan malu yang banyak berorientasi pada akhlak dan moral manusia. Banyak ketentuan yang menitik beratkan pada budi manusia. Mengamalkan keempat dari falsafah orang Minangkabau ini akan bermuara pada tingkah laku dan perbuatan yang sopan dalam pergaulan yakni elok dek awak katuju dek urang (baik bagi kita disetujui oleh orang). Sebaliknya orang yang tidak mengamalkan Kato Nan Ampek disebut urang yang indak tau diampek. Filsafat adat Minangkabau juga mengajarkan nilai baso basi (basa-basi) sebagai ukuran budi seseorang dalam melakukan interaksi antar individu dan Masyarakat yang terungkap melalui tutur ucapan lisan seseorang.
Filsafat adat Minangkabau juga menekankan nilai-nilai etika dalam berkomunikasi, yang diatur dalam filosofi kato nan ampek (kata yang empat):
Kato mandaki (kata mendaki), yaitu Bahasa yang digunakan oleh orang yang status sosialnya lebih rendah dari lawan bicaranya, seperti komunikasi antara orang yang lebih muda kepada orang yang lebih tua, murid kepada gurunya, dan anak buah kepada bosnya.
Kato manurun (kata menurun), yaitu Bahasa yang digunakan oleh orang yang status sosialnya lebih tinggi dari lawan bicaranya, seperti komunikasi antara orang lebih tua kepada orang yang lebih muda, kakak kepada adik, mamak kepada kemenakan.
Kato malereng (kata melereng), yaitu Bahasa yang digunakan oleh orang yang statusnya sama, seperti antara orang yang mempunyai kekerabatan karena perkawinan (ipar kepada besan, mintuo kepada minantu)
Kato madata (kata mendatar), Bahasa yang digunakan kepada orang yang posisinya sama dan memiliki hubungan yang akrab seperti teman dan sepupu yang sama besar.

Keterpaduan nilai-nilai lokal yang berkembang dalam Masyarakat Minangkabau dalam menjunjung tinggi budi pekerti Masyarakat tergambar dalam nilai-nilai di Minangkabau dengan istilah kato nan ampek. Dalam Bahasa Indonesia kato nan ampek ini berarti kata yang empat. kato berarti aturan dalam berbicara tentang bagaimana kita seharusnya berbicara dengan orang lain. Kapan kita harus berbicara lemah lembut kapan pula kita harus berbicara tegas dan seterusnya itu semua di atur dalam Kato Nan Ampek.
Kato Nan Ampek adalah tutur Bahasa orang Minangkabau dalam berkomunikasi, menjadi pedoman bagi semua yang terlibat di dalamnya. Kato nan ampek juga menjadi falsafah hidup orang Minangkabau dalam kehidupan sehari-hari. Kato atau kata adalah istilah yang mewakili pesan untuk sesuatu. Kata unsur untuk berkomunikasi. Kato nan ampek dalam budaya Minangkabau adalah identitas orang Minangkabau dalam menentukan ukuran atau standar yang dipakai untuk berinteraksi. Kaidah etika dalam interaksi sosial perlu diperhatikan etika berkomunikasi dengan orang tua, orang yang dituakan, teman seumuran dan orang yang dibawah kita.***