Kualitas Udara Pekanbaru Tidak Sehat, SKK Migas Sumbagut Pindahkan Sementara Kantor ke Padang

Kepala SKK Migas Sumbagut Avicenia Darwis menyalami anak-anak karyawan SKK Migas yang ikut diungsikan ke Sumbar..foto.dok

PEKANBARU, MIMBAR – Satuan Kerja Khusus (SKK) Migas Wilayah Sumatera Bagian Utara (Sumbagut) memindahkan sementara kantornya dari Pekanbaru ke Padang, Sumatera Barat. Keputusan ini diambil setelah mencermati kondisi udara di Pekanbaru yang masih dalam kondisi tidak sehat dan berbahaya.
Dikutip dari situs riau24.com, Kepala SKK Migas Sumbagut Avicenia Darwis yang ditemui saat melepas keberangkatan karyawan dan anggota keluarga yang rentan bahaya asap ke Padang mengungkapkan, pemindahan sementara kantor tersebut sudah mendapat restu dari pimpinan SKK Migas pusat.
“Saya laporkan kepada pimpinan kondisi udara yang mencapai level tidak sehat dan sudah membahayakan jiwa karyawan SKK Migas dan keluarganya. Apalagi diperkirakan kondisi ini masih akan berlangsung hingga beberapa waktu ke depan. Karena itu kita dipersilahkan untuk memindahkan kantor sementara,” jelas Avicenia, Senin (16/9/2019).
Menurut Darwis, jumlah karyawan dan keluarga yang ikut pindah sementara ke Sumbar sebanyak 150 orang. Selama dua Minggu, aktivitas karyawan SKK Migas akan dilaksanakan dari Padang. “Untuk sementara ini kita planning-kan akan berada dua Minggu di Sumbar. Jika kondisi membaik kita akan kembali berkantor di Pekanbaru. Tapi jika masih tetap buruk maka akan kita perpanjang. Bagi kita keselamatan dan kesehatan karyawan merupakan hal yang utama,” tegasnya.
Selain memindahkan sementara kantornya, SKK migas Sumbagut juga menarik sementara petugas pencatat lifting di semua perusahaan migas yang ada di Riau. “Sebagai petugas yang berada di lapangan, mereka juga sangat rentan terhadap bahaya asap, apalagi di beberapa lokasi seperti Dumai kabut asap sangat pekat,” ujarnya.
Avicenia tak menampik, kabut asap kebakaran hutan dan lahan yang sudah satu bulan lebih menyelimuti Riau akan berdampak pada lifting migas di wilayah Sumbagut. Hal ini karena produktivitas para pekerja di sumur-sumur migas juga mengalami penurunan.
“Informasi yang saya terima dari teman-teman KKKS, mereka terpaksa mengurangi aktivitas di lapangan, terutama yang kondisi pencemaran udaranya sudah pada kondisi tidak sehat dan berbahaya. Ini tentunya berdampak pada lifting migas,” tambah Avicenia.
Pihak SKK Migas Sumbagut juga menghimbau kepada KKKS agar tetap waspada menjaga lahan konsesi dan kawasan operasional dari ancaman kebakaran lahan. “Dalam kondisi seperti sekarang, tentu kewaspadaan harus ditingkatkan, apalagi kawasan eksplorasi ini merupakan kawasan objek vital negara, jadi harus benar-benar dijaga agar tidak terimbas kebakaran,” pesannya.(ms/ald)

Baca Juga:  Andrinof A Chaniago Berbagi Buku Biografi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *