Mahasiswa FMIPA UNP Juara Debat Berbahasa Indonesia

Mahasiswa FMIPA UNP yang jadi juara debat berbahasa Indonesia se-Sumbar. foto.dok

Padang, Mimbar — Mahasiswa Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) UNP tampil sebagai juara pada  “Lomba Debat Berbahasa Indonesia (LDBI) bagi Mahasiswa Se-Sumatera Barat”.

Kegiatan ini dalam rangka Pekan Bahasa dan Sastra tahun 2019 yang diadakan 29 Agustus 2019 lalu oleh Balai Bahasa,  di Aula Pertemuan Radio Republik Indonesia (RRI) Padang. Tiga  mahasiswa Universitas Negeri Padang dari Jurusan Matematika dan Kimia keluar sebagai juara ke-2.

Ketiga mahasiswa tersebut ialah Alfarizi (jurusan Matematika), Monalisa Pratiwi (jurusan matematika), dan Real fandi (jurusan Kimia). Lomba ini diadakan dengan tujuan meningkatkan sikap positif terhadap Bahasa Indonesia dan memotivasi mahasiswa untuk berpikir kritis dalam menyampaikan gagasan dan ide dengan bahasa yang baik.

Banyak peserta yang ambil bagian dalam omba ini yakni 18 tim dari seluruh perguruan tinggi se-Sumatera Barat. Lomba debat ini dinilai oleh tiga orang juri yang sangat berkompeten dibidangnya.

Menurut Alfarizi, dalam lomba debat ini ada tiga kriteria penilaian yaitu penggunaan Bahasa Indonesia yang baik, benar, dan tepat (40%), penguasaan materi yang meliputi kesesuaian topik, pengembangan topik, dan argumen yang meyakinkan (30%), dan penyajian yang meliputi kepercayaan diri, ekspresi, dan gesture dalam berlomba (30%). Lomba ini terdiri dari 4 babak yaitu babak penyisihan, babak semi-final, babak final, dan babak tambahan.

Baca Juga:  Kemenristekdikti Kuatkan Sikap Toleransi pada 30-an Mahasiswa Papua di UNP

Lebih lanjut Alfairizi menjelaskan pada babak penyisihan menampilkan 8 kelompok lomba. Satu kelompok lomba diikuti dua tim yang bertanding, yaitu tim pro (positif) dan tim kontra (negatif). Penentuan peserta yang melaju ke tahap berikutnya berdasarkan nilai tertinggi dari swtiap pertandingan. Empat pasang tim dengan nilai tertinggi pada masing- masing pertandingan akan maju ke babak semi-final.

Babak semi-final diikuti oleh 4 Pasang tim yag memiliki nilai tertinggi dari babak penyisihan. Babak semi-final ini juga menggunakan sistem nilai tertinggi setiap pertandingan. Penentuan peserta yang melaju ke babak final juga didasarkan pada akumulasi nilai yang tertinggi disetiap pertandingan. Dua tim yang memperoleh nilai tertinggi di pertandingan akan maju ke babak final.

Babak tambahan diikuti oleh dua tim peserta yang terpilih dari babak semi-final dengan akumulasi nilai tertinggi tiga dan empat untuk mencari pemenang ketiga dan harapan pertama. Pemenang harapan kedua diambil dari babak semi-final dengan akumulasi nilai tertinggi lima.

“Alhamdulillah tim dari FMIPA-UNP berhasil melalui beberapa tahap dan akhirnya bermuara dalam tahap final yang berkompetisi dengan Mahasiswa UNAND, Antara percaya dan tak percaya ternyata TIM FMIPA-UNP Berhasil berada posisi kedua yang menyisihkan 14 Delegasi terbaik dari masing-masing perguruan tinggi yang berada di sumatera Barat,” Ujarnya

Baca Juga:  NASRUL ABIT: Manfaatkan Munas BUMDes Ajang Menyerap Ilmu

Alfarizi mengungkapkan bahwa setiap babak dari perlombaan memiliki mosi yang berbeda. Mosi penutup perlombaan debat Berbahasa Indonesia tahun 2019 adalah “Bahasa Asing Boleh Dipergunakan pada papan Nama Usaha,”. Sementara TIM FMIPA-UNP berada pada posisi Kontra.

Disamping itu, ia dan timnya juga mendapat posisi yang bervariatif Sepanjang perlombaan berlangsung. Tim dari FMIPA-UNP Yang dikenal dengan Garda Biru memiliki semangat yang tinggi dan optimis dalam memenangkan perdebatan disetiap sesinya.

Tim yang berasal dari FMIPA inj di tafsirkan oleh dewan juri berasal dari rumpun ilmu sosial. secara jelas dan yakin kami mengatakan kepada dewan juri bahwasanya kami bersal dari FMIPA yang dalam notabenenya merupakan mahasiswa yang mementingkan akademik saja dan mencoba mengabaikan kritis dalam berargument.

“Secara jelas dengan pembuktian ini perlahan-perlahan perkataan tersebut dapat dipatahkan. Yang menjadi semangat kami dalam lomba debat ini adalah kami akan menunjukkan FMIPA Memang bungo galeh unp, ketika rumpun ilmu sosial mampu beretrotika maka mahasiswa FMIPA mampu berfikir kritis dan sistematis yang sesuai dengan kajian ilmiah sains yang diterapkan di FMIPA,” imbuhnya. (ms/rls/ald)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *