Muqowam: Pemahaman Radikalisme Penting Untuk Cegah Perkembangannya

Semarang, Mimbar — Wakil Ketua DPD RI Akhmad Muqowam menilai perkembangan paham radikalisme di Perguruan Tinggi semakin meresahkan. Karena itu sangat penting pemahaman civitas akademika mengenai paham radikalisme secara utuh guna mencegah penyebarannya.

Dalam rangka mencegah penyebaran paham radikalisme dengan cara persuasif dan akademis menjadi alasan DPD RI menyelenggarakan Focus Group Discussion dengan tema “Membedah Paham Radikalisme di Perguruan Tinggi: Penyebab dan Pencegahannya” di Aula Fisip Universitas Diponegoro, Semarang (26/9).
Akhmad Muqowam mengatakan bahwa ia telah menggali informasi ke beberapa kampus di Jawa Tengah dan mengkonfirmasi survey LSM mengenai 10 perguruan tinggi yang terpapar radikalisme. Hasilnya memang paham radikalisme sudah berkembang di masyarakat khususnya kampus. “Setelah ketemu hasil ini mau diapakan, dari narasumber yang dihadirkan kita bisa mendapatkan dialog akademi dan kebijakan. Apa langkah-langkah yang harus dilakukan kampus, mahasiswa dan masyarakat. Kita juga harus identifikasi masyarakat seperti apa yang berkontribusi kepada terciptanya radikalisme itu,” jelas Akhmad Muqowam.
Salah satu narasumber FGD adalah juru bicara BIN Wawan H. Purwanto yang mengatakan bahwa ideologi Pancasila yang telah menipis mengakibatkan tumbuh suburnya paham radikalisme di masyarakat. “Karena pendekatan sosialisasi yang negara sentris, Pancasila tidak dihadirkan melalui logika masyarakat, salah satunya logika keagamaan. Ini yang buat benturan antara islam dan Pancasila yang sering terjadi pada beberapa kelompok, maka perlu pendekatan agama dan budaya,” jelas Wawan.

Baca Juga:  60 Seniman Mural Ikut Berpartisipasi Paint Your City 6

Ia mengatakan bahwa tindakan preventif bisa dilakukan dengan bantuan keluarga sebagai unit terkecil maupun masyarakat. Jika terjadi perubahan sikap pada anggota keluarga atau anggota masyarakat, maka hal tersebut harus diwaspadai dan dilaporkan. “Di dalam keluarga harus saling mengingatkan, rata-rata mereka yang sudah menjauh dari keluarga terpapar radikalisme, karena mindsetnya berubah, ia menganggap bahwa yang lain thagut,” ujar Wawan.
Sementara itu Ketua Anti Radikalisme UNDIP Muhammad Adnan mengatakan bahwa target penyebaran paham radikalisme adalah universitas umum karena lebih beragam. Mahasiswa universitas umum kebanyakan mendalami ilmu agama ketika menjadi mahasiswa, beda halnya dengan mahasiswa IAIN/UIN yang menempuh sekolah islam sejak kecil seperti MI, MTs, dan MAN. “Mahasiswa UIN biasanya dari madrasah sudah kenyang ilmu agama, sedangkan mahasiswa umum mungkin yang tidak tersentuh ajaran sejak kecil, mulai mencari saat jadi mahasiswa,” tukas Adnan.
Adnan juga menyampaikan sebaiknya antara pemahaman agama dan Pancasila itu berjalan beriringan. Ia mengatakan lebih baik lagi jika dosen agama juga bisa mengajarkan ideologi Pancasila, demikian sebaliknya. “Kalau seandainya dosen agama sekaligus sebagai dosen Pancasila, 10 persen saja masuk maka kita sudah bisa mencegah paham radikalisme,” jelasnya. (ms/rls/ald)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *