NTT Diterjang Siklon Seroja, 84 orang tewas dan 103 orang hilang

(Oleh Kelompok 4
Mata kuliah Fisika Kebencanaan Universitas Andalas)

Perubahan iklim sejak beberapa hari sebelum kejadian mengakibatkan siklon seroja.
Kronologisnya, Kepala Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika(BMKG) Dwikorita Karnawati mengatakan munculnya siklon tropis seroja yang mengakibatkan bencana banjir bandang dan longsor di Nusa Tenggara Timur (NTT) menjadi bukti bahwa perubahan iklim global itu nyata adanya.
“Perubahan iklim global itu memang nyata, ditandai semakin meningkatnya suhu baik di udara maupun di muka air laut,” ujar Dwikorita dalam konferensi pers secara virtual yang dipantau dari Jakarta, Senin (5/4/2021).
Perihal siklon tropis seroja di NTT, BMKG telah mengeluarkan peringatan dini waspada bibit siklon pada 2 April. Beberapa faktor yang mengakibatkan terbentuknya bibit siklon serojaitu suhu muka laut yang semakin hangat di wilayah Samudera Hindia mencapai lebih dari 26,5 hingga 29 derajat celcius atau melebihi rata-rata.Ada kenaikan dua derajat celcius itu sudah sangat signifikan untuk kondisi cuaca,” kata dia.
Kemudian suhu udara di lapisan atmosfer menengah pada 500 milibar juga semakin hangat lebih dari tujuh derajat celcius. Dua hal tersebut meningkatkan kelembapan udara dan juga mengakibatkan naiknya tekanan udara.
“Akibatnya terjadi aliran angin karena sifatnya siklonik, artinya ada pusat kemudian di kelilingi oleh suhu udara yang lebih dingin maka terjadilah aliran masa udara atau angin yang sifatnya siklonik,” kata dia.
Minggu 04 April 2021, bencana alam badai siklon tropis Seroja menerpa selatan Nusa Tenggara Timur (NTT). Badai ini menyebabkan angin kencang, tanah longsor, banjir, dan banjir bandang di 11 kabupaten/kota di NTT. Diantara kabupaten yang terdampak yaitu Kota Kupang,Kabupaten Flores Timur, Kabupaten Malaka Tengah, Kabupaten Lembata, Kabupaten Ngada, Kabupaten Alor, Kabupaten Sumba Timur, Kabupaten Rote Ndao, Kabupaten Sabu Raijua, Kabupaten Timor Tengah Selatan, Kabupaten Ende.
Bencana banjir, longsor, hingga gelombang tinggi di NTT tersebut menyebabkan puluhan jiwa menjadi korban. Korban tersebut berasal dari empat kabupaten persebarannya terdapat 49 orang meninggal di Kabupaten Flores Timur, 16 di Lembata, 15 di Alor, 2 di Malaka, 1 di Kota Kupang, dan 1 di Ende. Selain itu, terdapat 2.683 orang terdampak, 123 orang luka-luka, dan 103 orang hilang.
“Korban jiwa masih dalam pendataan. Sebanyak 68 orang meninggal dunia,” kata Raditya.
Sebanyak 68 orang meninggal itu terdiri atas 44 orang di Kabupaten Flores Timur, 11 orang di Kabupaten Lembata, 2 orang di Kabupaten Ende, dan 11 orang di Kabupaten Alor. Sementara itu, 15 orang mengalami luka-luka dengan rincian 9 di Flores Timur, 1 di Kabupaten Ngada, dan 5 di Kabupaten Alor.
Selain itu, dilaporkan ada 70 orang hilang, yang terdiri atas 26 orang di Flores Timur, 16 orang di Kabupaten Lembata, dan 28 orang di Kabupaten Alor. BNPB mencatat ada 938 keluarga atau 2.655 jiwa terdampak akibat bencana. Pendataan korban masih dilakukan.
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat terdapat 84 orang meninggal dunia akibat Siklon Tropis Seroja hingga 6 April 2021 pukul 14.00 WIB di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Hingga 30 April 2021, Menurut catatan BNPB, 66 ribu rumah rusak parah dan 12.334 orang terpaksa mengungsi. BNPB mencatat bencana ini mengakibatkan 181 orang kehilangan nyawa, 48 orang hilang, dan 258 lainnya luka-luka.
Dwikorita mengatakan siklon tropis tersebut bergerak menjauhi Indonesia. Dwikorita juga menuturkan siklon itu akan berpotensi hujan lebat yang diperkirakan terjadi di NTB, NTT, Sulawesi Selatan, hingga Maluku (4/4) malam.***

 

Kelompok 4
Mata kuliah Fisika Kebencanaan Universitas Andalas
Fisika kelas B
Dosen Pengampu: Ahmad Fauzi Pohan, M.Sc.
Anggota Kelompok:
Syafitri Rahmadhani
Daratul Fauzia Husein
Rian Ashari Siregar
Maurel Bintang
Muhammad Akhrivastin Hawaari