Pengamalan Nilai-nilai Spiritual Dalam Bermasyarakat

Ridwan Syaifullah. (foto dok.ridwan)
Ridwan Syafrullah. (foto dok.ridwan)

Oleh: Ridwan Syafrullah, S.E.

Dalam menjalankan kehidupan sosial cenderung melibatkan banyak hal. Banyak permasalahan yang timbul di tengah masyarakat baik itu disengaja ataupun tidak disengaja yang terjadi secara alamiah.

Menilai problematika (permasalahan) yang terjadi dikalangan masyarakat, sebagai seorangnya generasi muda yang berkecimpung dalam aktivitas kegiatan sosial bermasyarakat. Maka dari itu, perlu andil bersuara dan memberikan solusi dalam melihat permasalahan di tengah masyarakat baik secara global maupun secara regional.

Beragam kasus yang terjadi secara nasional masih banyak terdengar oleh telinga kita seperti: korupsi, kolusi dan nepotisme, serta penyalahgunaan jabatan maupun terorisme. Juga tidak luput, akibat memunculkan permasalahan sampai ketingkat regional seperi masih tingginya kriminal dan deretan kasus lainnya.

Islam sebagai agama yang bersifat universal dan memiliki visioner sebagai agama pembawa berkah yaitu “rahmatan lil alaamin” rahmat bagi sekalian alam.

Baca Juga:  Peringatan HKGN Tahun 2020, Ketika Mulut PDGI Terkunci

Pentingnya kecerdasan intelektual, emosional dan spiritual dalam menjalani kehidupan sosial bermasyarakat itu juga di ajarkan oleh agama Islam. Sehingga timbulnya simbol dalam dalam menjalankan kehidupan bersosial dengan mengedepankan beberapa kebutuhan, yaitu menanamkan keutuhan imam ( isi dada dengan Al-Qur’an dan Sunnah), kebutuhan ilmu ( isi kepala dengan ilmu pengetahuan), kebutuhan untuk bertahan hidup ( isi perut dengan makanan yang halal lagi baik, baik dalam cara memperoleh maupun zatnya). Jika hal tersebut dilakukan maka hubungan muamalah sesama umat akan terjaga dengan baik.

Banyak ditemui di sekeliling bahwa orang memiliki intelektual yang tinggi namun masih melakukan korupsi dan penyelewengan, Itu semua terjadi karena kurangnya kecerdasan dalam pengamalan spiritual.

Baca Juga:  PSSI dan Kongres 2 November, “Mengapa Saya Tidak Mau Terlibat”

Karena sejatinya sholat itu pencegahan dari perbuatan keji dan mungkar, jika sudah dilakukan dengan baik maka akan memunculkan rasa takut untuk melakukan penyelewengan.

Maka dari pada itu, kecerdasan intelektual, kecerdasan emosional dan kecerdasan spiritual hendaklah selalu berdampingan dalam menjalani kehidupan sosial bermasyarakat.

Jika, terjadi ketidak seimbangan antara tiga poin utama tersebut akan menjadikan kesalahan sistem dalam bersosial dan menimbulkan beragam permasalahan seperti penyalahgunaan jabatan, korupsi, pencurian, dan beragam jenis kriminal lainnya.

Jika kecerdasan intelektual tidak di iringi oleh kecerdasan spiritual dan emosional. Maka akan melahirkan “banyak orang-orang yang pintar namun tidak benar,” dan akan bermunculan beragam persoalan ditengah masyarakat seperti harus jabatan sehingga melakukan berbagai cara untuk mendapatkannya, menyuap, salah guna jabatan dan lain sebagainya.

Baca Juga:  Irjen Fakhrizal, Mutasinya Melahirkan Simpati

Sehingga ketika hal tersebut dibiarkan maka ini akan menjadi suatu hal yang lumrah dan akan menjamur di tengah masyarakat sehingga menjadi hal tersebut menjadi suatu kelaziman di tengah masyarakat.

Mulai memperbaiki penataan kehidupan bermasyarakat dimulai dari diri sendiri, keluarga, lingkungan sekolah, lingkaran bermasyarakat. Sehingga dengan itu akan melahirkan Nagari Aman, damai dan sejahtera. Maka dari itu perlunya pengamalan dalam menata kehidupan sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah dengan cerdas intelektual, cerdas emosional, dan utama cerdas spiritual (**)

Tentang Penulis:

Kadif Kajian Strategis (DPP IPPSA)
– Anggota KNPI Tanah Datar
– Kependidikan Sekolah PSA Sulit Air

 

banner 300x250