Perempuan Minangkabau Di Era Revolusi 4.0


Oleh: Sintari Arfita (Mahasiswa Magister Ilmu Politik, Unand)

Perempuan Minangkabau memiliki kedudukan yang istimewa dan kontras dibandingkan dengan suku-suku yang ada di Indonesia. Peranan yang mencolok memberikan ciri khas yang unik bagi perempuan minang. Eksistensi perempuan minang tidak hanya mencakup urusan rumah tangga melainkan juga dihadapkan pada kehidupan bermasyarakat.
Secara garis kekerabatan, masyarakat Minangkabau menganut budaya matrilineal tebesar dan satu-satunya yang ada di Indonesia, dimana perempuan memiliki peranan yang khusus dalam hukum adat maupun dalam suatu pemerintahan. Perempuan dalam konsep ideal Minangkabau memiliki posisi strategis, bukan hanya sebagai penerus keturunan melainkan juga berfungsi sebagai limpapeh rumah gadang atau tiang utama dan juga sebagai kunci harta pusaka keluarga. Dalam adat Minangkabau, sosok perempuan telah diatur dalam kehidupan bermasyarakat. Pada suatu waktu, perempuan minang akan menjadi “bundo kanduang.” Sebutan bundo kanduang sendiri mengarah kepada perempuan yang telah mencapai kedudukan dalam adat masyarakat Minangkabau.
Secara umum, peran perempuan lebih berat dalam membentuk watak seorang anak dibandingkan peran laki-laki. Sejatinya, baik maupun buruk perilaku seorang anak berawal dari didikan seorang ibu, yang hal ini telah menjadi pokok dasar dari zaman dulu hingga pada saat sekarang ini. Berkaca pada situasi sekarang, anak-anak muda yang ada di Indonesia tanpa terkecuali di Minangkabau telah menerima sedikit banyaknya paham mengenai globalisasi yang berkembang dalam kehidupan sehari-sehari. Salah satunya yaitu berasal dari pengaruh penggunaan media sosial seperti Instagram, facebook, twitter, whattasap maupun media sosial lainnya.
Perkembangan arus informasi sudah menjadi bagian dari perkembangan era digital saat ini yang kerap disebut dengan revolusi industri 4.0. Tidak terbantahkan bahwa revolusi industri 4.0 melibatkan segala kalangan dalam proses persaingan yang semakin ketat tersebut tidak terkecuali kaum perempuan.
Perubahan-perubahan tersebut terjadi secara dinamis dan mempengaruhi tatanan kehidupan masyarakat. Sejatinya, pada era ini, perempuan dapat menyeimbangi peran laki-laki dan dapat melewati batas-batas yang sebelumnya belum pernah kaum perempuan lalui. Perempuan dapat menggunakan berbagai cara untuk mengedepankan emansipasinya, salah satunya dengan pendidikan. Melalui pendidikan yang cukup, perempuan akan dapat membuka cakrawala ataupun pandangan akan suatu hal dengan tujuan untuk lebih memajukan dirinya dengan ilmu yang dia miliki.
Dalam segi negatif, sifat modernitas kehidupan masyarakat saat ini ikut meruntuhkan pondasi-pondasi karakter “gadih minang” yang selama ini dibangun dengan didasari adat yang telah berlaku. Realitanya, dalam keseharian sangat langka ditemui perempuan Minangkabau memakai baju kuruang. Sebagian besar perempuan memakai baju yang memperlihatkan lekuk tubuh dan jauh dari realitas baju kurung yang sebenarnya. Dalam konteks dunia kerja, banyak ditemui perempuan hanya mengkuti peraturan dari para atasan sebagaimana sudah beberapa tahun belakang ini para pejabat di Sumatera Barat sepakat untuk mewajibkan pegawai perempuannya memakai baju kurung pada satu hari tertentu dalam satu minggu yang telah disepakati.
Dampak kemajuan teknologi informasi dan komunikasi tidak hanyak memberikan efek positif melainkan juga mengarah ke arah negatif apabila tidak dapat diatasi dengan tepat. Perkembangan yang tidak dapat dibatasi ini berpengaruh terhadap pudarnya nilai-nilai kearifan lokal. Revolusi Industri 4.0 menyebabkan cepatnya transformasi kehidupan sosial kemasyarakatan. Digitalisasi teknologi tidak dapat dibendung dan terus mempengaruhi berbagai bidang kehidupan. Perempuan harus dapat menyesuaikan dengan kondisi ini, mengatasi tantangan, dan mengambil peluang untuk berperan dalam Revolusi Industri 4.0. Presiden Jokowi dan jajaran pemerintah telah merespons dan mengantisipasi perkembangan ini melalui kebijakan dan alokasi anggaran. Pembangunan SDM menjadi faktor utama untuk mencapai keberhasilan Revolusi Industri 4.0.
Budaya yang dimiliki masyarakat Minangkabau sejatinya dapat memberikan jalan terhadap kemajuan kaum perempuan itu sendiri. Dengan dianutnya sistem matrialinial, kaum perempuan memiliki kesempatan lebih untuk keluar dari zonanya dan dapat bersaing dengan laki-laki pada umumnya. Hal ini juga didukung dalam Pasal 27 UUD 1945 disebutkan bahwa kedudukan perempuan sederajat dengan laki-laki di bidang hukum dan pemerintahan. Dalam artian, perempuan dapat memberikan kontribusinya dalam berbagai bentuk hal, baik itu dalam bidang politik, sosial, maupun ekonomi.
Di era revolusi 4.0, posisi perempuan sangat dibutuhkan dalam setiap sisi kehidupan. Di sinilah dibutuhkan perempuan yang tidak saja cerdas, peka, kritis, ulet namun juga bijaksana. Perempuan yang tahu kapan harus membuka jendela rumah gadangnya seluas mungkin, namun juga cepat-cepat menutupnya jika pemandangan di luar dapat berdampak negatif bagi keluarganya.
Adaptasi perkembangan revolusi industri 4.0 menekankan kepada kemampuan terhadap digitalisasi, terutama dalam lingkup dunia kerja. Hadirnya Revolusi Industri 4.0 dengan peluang lapangan kerja yang besar dianggap sebagai kesempatan besar untuk meningkatkan pendapatan perempuan. Di Minangkabau, peluang-peluang ini menjadi kesempatan emas bagi perempuan minang yang telah dibungkus dalam pemahaman budaya kekerabatan matrilineal.***

Baca Juga:  Jenderal Fakhrizal Dimata Milenial Sumbar

Komentar ditutup, tapi trackbacks dan pingback terbuka.