Permainan Tradisional Anak Nagari di Sumatera Barat

Tri Hartati Ramadhani. (foto/dok)

Oleh: Tri Hartati Ramadhani
(Mahasiswa jurusan Sastra Minangkabau Universitas Andalas)

Sumatera Barat merupakan salah satu provinsi di Indonesia yang kaya akan budaya dan tradisi. Salah satu aspek budaya yang khas dari Sumatera Barat adalah permainan tradisional anak nagari. Permainan ini telah diwariskan secara turun-temurun dan masih populer hingga saat ini. Dalam artikel ini, kita akan membahas beberapa permainan tradisional anak nagari yang sering dimainkan di Sumatera Barat.
Salah satu permainan tradisional yang populer di Sumatera Barat adalah “Talago Bundo”. Permainan ini melibatkan sekelompok anak yang membentuk lingkaran sambil menggenggam tangan satu sama lain. Anak yang berada di tengah akan menari dengan gerakan yang lincah dan menghibur. Sambil menari, anak tersebut akan mengajak anak lain untuk ikut bergabung di tengah lingkaran. Permainan ini tidak hanya menyenangkan, tetapi juga mengembangkan kekompakan dan kebersamaan antar anak-anak.
Selain itu, ada juga permainan “Galasin”. Permainan ini melibatkan anak-anak yang membentuk satu barisan dan berlari sambil memegang kain yang diikat di bagian ujungnya. Anak yang berada di depan barisan akan memimpin gerakan dan arah lari sementara anak-anak lainnya harus mengikuti dengan tetap memegang kain tersebut. Tujuan dari permainan ini adalah untuk melatih kerja sama dan kekompakan antar anak-anak.
Permainan “Batagak Pangka” juga menjadi salah satu permainan tradisional yang populer di Sumatera Barat. Permainan ini melibatkan dua tim yang saling berhadapan. Setiap tim akan membawa sebilah bambu yang panjangnya sekitar 2 meter. Tujuan dari permainan ini adalah untuk menjatuhkan anggota tim lawan dengan menggunakan bambu tersebut. Permainan ini tidak hanya menyenangkan, tetapi juga membutuhkan kekuatan fisik dan strategi.
Selanjutnya, ada permainan “Masak Masak”. Main masak-masak biasanya sering dimainkan oleh anak perempuan. Mereka memainkan imajinasi mereka dan membayangkan menjadi seorang juru masak yang hebat. Bahan yang digunakan main masak-masak juga bersifat imajiner, seperti tanah untuk nasi, daun-daun dan kayu sebagai lauk, ranting sebagai ayam, dll. sejumlah liar yang mirip langkok-langkok sebagai bahan-bahan perlengkapan dalam memasak. Permainan ini tujuannya untuk mengenalkan masakan-masakan khas tradisional Minangkabau, berikut dengan kelengkapan dan cara memasaknya. Dengan kata lain, main masak-masak adalah semacam simulasi cara memasak yang dilakukan oleh anak-anak perempuan Minangkabau selaku pewaris budaya memasak yang luar biasa.
Permainan “Tunggak”. Main tunggak sangat mirip dengan main pijak bayang-bayang adalah permainan tradisional untuk kanak-kanak yang sangat mudah dilaksanakan. Yang diperlukan adalah tonggak yang disepakati. Biasanya memanfaatkan tonggak main volley, tonggak main badminton, tonggak sekolah atau tonggak bendera, dll. cara memainkannya sangat sederhana. Setelah bersuit, maka yang kalah ditetapkan sebagai pengejar, yang lainnya lari atau berdiri di tonggak. Sekali-kali pemain lari. Kalau disepakati ada tonggak yang lain, ia boleh berlari dan pindah ke tonggak yang lain sekaligus untuk memberi kesempatan pada yang bertugas mengejar dapat menyentuh bagian tubuhnya. Yang berada di tonggak juga tidak boleh terlalu lama. Maka ia harus berlari atau berpindah ke tonggak yang lain untuk memberikan kesempatan dikejar. Bagi yang tersentuh tubuhnya, ganti bertugas jadi pengejar.
Permainan “Pijak Bayang”. Main pijak bayang-bayang adalah permainan tradisional yang sangat mudah dilaksanakan. Hanya saja permainan dilakukan saat matahari bersinar cerah dan membuat bayang-bayang di tanah. Cara bermainnya sederhana. Setelah bersuit, yang kalah ditetapkan sebagai pengejar bayangan, yang lain berdiri di tempat teduh. Sesekali pemain lari ke daerah panas untuk memberi kesempatan yang bertugas mengejar dan menginjak bayangannya. Yang ditempatnya teduh juga tidak boleh terlalu lama. Ia akan disebut pengecut. Maka ia harus ke luar untuk memberikan kesempatan dikejar. Bagi yang terinjak bayangannya, ganti bertugas jadi pengejar.
Selanjutnya, ada juga permainan “Sipak Rago”. Sipak Rago adalah permainan tradisional yang popular di masyarakat Minangkabau. Permainan ini biasanya dimainkan laki-laki minang, yaitu dengan menggunakan rago. Rago sebutan untuk bola berbentuk kubus yang terbuat dari anyaman daun kelapa. Dinamai rago karena dalam permainan ini ia merupakan symbol dari raga (kehidupan). Tujuan membuat rago dari daun kelapa, agar mudah dibentuk, dan saat ditendang ia lebih lembut sehingga tida membuat kaki lecet. Daun kelapa ini terlebih dahulu dilepaskan dari lidinya, kemudian dianyam mirip ketupat. Permainan sipak rago mengutamakan kewaspadaan dan ketangkasan mengolah bola; memainkan bola, dan membaginya. Setelah bola ditendang pertama kalinya, maka diusahakan agar bola tidak jatuh ke tanah. Bola ditendang dari kaki agar melambung ke atas, lalu ditendang lagi untuk dimainkan para pemain yang lain, dan begitu seterusnya. Dalam permainan sipak rago ini, banyak terkandung makna dan nilai-nilai luhur yang memberikan pelajaran dalam rangka pendidikan karakter berdasarkan Adat Minangkabau. Yaitu karakter mulia dan tangguh yang bertolak pada falsafah Adaik Basandi Syarak, Syarak Basandi Kitabullah, Alam Takambang Jadi Guru ; Syarak Mangato Adaik Mamakai ( Adat Bersendi Syarak, Syarak Bersendi Kitabullah, Alam Takambang Jadi Guru ; Syarak Manyatakan Adat Minangkabau.
Dalam kesimpulan, permainan tradisional anak nagari di Sumatera Barat merupakan bagian penting dari warisan budaya. Permainan seperti Talago Bundo, Galasin, Batagak Pangka, Masak-Masak, Tunggak, Pijak Bayang, dan Sipak Rago tidak hanya untuk menghibur, tetapi juga mengembangkan kekompakan, kreativitas, dan kecerdikan anak-anak. Oleh karena itu, penting bagi kita untuk terus melestarikan permainan tradisional ini agar tradisi dan budaya Sumatera Barat tetap hidup dan berkembang.***