UNP Salah Satu Universitas Sentra Pengembangan Pendidikan Vokasi di Indonesia

Padang, Mimbar — Fakultas Tenik (FT) Universitas Negeri Padang diminta lebih fokus pada pendidikan vokasi dimasa mendatang, sehingga FT UNP mampui melahirkan tenaga terampil. Untuk itu, perlu mengubah kurikulum pendidikan vokasi menjadi lebih mengacu pada industri.

Langkah strategis ini diharapkan dapat mewujudkan target Kemenristekdikti menjadikan UNP sebagai universitas pusat pengembangan pendidikan vokasi di luar pulau Jawa.
“Setelah memiliki bangunan insfrastruktur yang memadai, UNP kini diminta menjadi universitas yang fokus pendidikan vokasi yang melahirkan SDM yang terampil berkualitas sesuai dengan kebutuhan dunia kerja atau industri dimasa mendatang,” kata Rektor UNP, Prof Ganefri pada acara kunjungan kerjanya ke FT UNP, Selasa (15/1).

Baca Juga:  Gubernur Sumbar : Pembukaan Tahun Ajaran Baru 2020-2021 Dibagi Empat Metode

Ganefri menyampaikan, civitas akademika FT UNP mesti pro aktiv menjalankan program diploma dalam pengembangan SDM yang berkompoten, diantaranya melalui pendididkan vokasi industri berbasis kompetensi yang menerapkan sistem ganda (teori dan praktek). Hal itu tentu melalui pengembangan program baru di FT UNP, sebagai suatu strategi menghadapi era disrupsi.

Sebelum Rektor UNP memaparkan materinya “Peningkatan Mutu Berkelanjutan “Menuju Perguruan Tinggi Globalisasi,” Dekan FT UNP, Dr Fahmi Rizal
melaporkan kondisi terkini FT UNP di hadapan para Wakil Rektor, Kepala lembaga dan biro, para Wakil Dekan FT UNP, dosen dan tenaga kependidikan FT UNP.

Di dalam kunjungan Rektor UNP, Dekan FT UNP mengakui perkembangan teknologi yang mempengaruhi dunia industri memang membutuhkan pendidikan vokasi. Karena melalui pendidikan vokasi harus mampu menjadi entitas yang dinamis dan mampu mengikuti perkembangan di dunia industri.

Baca Juga:  Hari Guru 2021, Ratu Keisya: Semoga Pengabdian Guru Selalu Dirahmati Allah

Fahmi menyetujui permintaan Rektor UNP, karena saat ini terlihat banyak kecenderungan bahwa penyelenggara pendidikan vokasi tidak mampu merubah diri secara cepat untuk mengantisipasi kebutuhan tenaga kerja di industri. (rls/age)