Menteri PPN/Bappenas : Mentawai Ukir Sejarah Lewat Energi Listrik Berbasis Bambu

Menteri PPN/Kepala Bappenas Bambang Brodjonegoro, foto bersama Wagub Nasrul Abid, Bupati Mentawai Yudas Sabaggalet, Wakil Bupati dan Direktur PLN, usai peresmian PLTBm di desa Saliguma, Siberut, Selasa (17/9/2019). foto.dok

MENTAWAI, MIMBAR — Status Kabupaten Tertinggal, tak menghalangi Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kepulauan Mentawai untuk terus mengasah kreativitas. Di bawah Kepemimpinan Bupati Yudas Sabaggalet dan Wakil Bupati Kortanius Sabeleake, Kabupaten Mentawai mampu menjadi perhatian dunia. Popularitas ini didapat Mentawai lewat energi baru terbarukan pembangkit listrik berbahan baku bambu.

Kepala Bappeda Mentawai Naslindo Sirait saat mendampingi Menteri PPN/Bappenas Bambang Brodjonegoro saat meninjau PLTBm di desa Saliguma, Siberut, Mentawai.. foto.dok

Hadirnya listrik energi bambu ini, memang tak bisa dilepaskan dari kerja keras, kreativitas dan kegigihan seorang Kepala Badan Perencanaan Pembangunan Daerah (Bappeda) bernama Naslindo Sirait dalam mempersiapkannya. Maka sangat pantas kabupaten termuda di Provinsi Sumbar ini mendapat apresiasi penuh dari Menteri Perencanaan Pembangunan Nasional/Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro.
Saat meresmikan Pembangkit Listrik Tenaga Biomassa (PLTBm) di Desa Saliguma, Siberut dan dua PLTBm lainnya di Desa Matotonan dan Desa Madobag, Selasa (17/9/2019), Menteri PPB/Kepala Bappenas, Bambang Brodjonegoro menyampaikan langsung kebanggaannya tersebut, termasuk apresiasi khususnya pada pada Naslindo Sirait.
Meski harus berpanas-panas dan jalan kaki sekitar 2 km dari lokasi pendaratan helikopter yang membawanya dari bandara International Minangkabau, Menteri Bambang tetap bersemangat ketika disambut dengan tarian tradisional Mentawai.
Tahap awal, PLTBm ini memang untuk tiga desa, Madobag dan Matotonan di Kecamatan Siberut Barat Daya, dan Desa Saliguma Kecamatan Siberut Tengah dengan totalnya 700 KW. Di Desa Saliguma dengan kapasitas 250 KW, Desa Madobag dengan kapasitas 300 KW, dan Desa Matotonan dengan kapasitas 150 KW.

Setelah dilakukan uji coba, pembangkit listrik bambu ini bisa berjalan selama 12 jam mulai dioperasikan pukul 18.00 WIB sampai pukul 24.00 WIB, untuk wilayah Desa Saliguma ada 388 Kepala Keluarga (KK) yang menikmati listrik Biomassa bambu, sedangkan di Desa Madobag 468 KK, dan di Desa Matotonan 256 KK. Target kedepannya, semua desa di Kabupaten Mentawai akan diterangi listrik berbahan baku bambu tersebut.
“Kalau pembangkit berbahan baku kayu, lama-lama bakal habis dan tidak ramah lingkungan. Tapi bila menggunakan energi bambu, kapan habis bahan bakunya. Tinggal lagi memberdayakan masyarakat setempat dan pastinay ramah lingkungan. Ini energi masa depan,” ungkap Menteri Bambang.
Ditambahan, kalau ada listrik tentunya banyak kegiatan ekonomi yang bisa dikerjakan. Apalagi dengan bahan baku bambu, terbuka peluang masyarakat untuk menjadi petani bambu dan menjualnya ke pembangkit. Pelajar pun bisa lebih baik belajar karena adanya listrik karena waktu belajarnya bisa lebih panjang. Sehingga kualitas SDM bisa terus meningkat.
“Pembangkit listrik terbarukan menggunakan bambu ini akan diperluas, terutama di seluruh Kabupaten Kepulauan Mentawai karena masih banyak desa yang butuh listrik. Kemudian kita akan dorong di pulau-pulau lain di Indonesia, khususnya pulau kecil,” tambahnya.
Kendati sudah teraliri listrik, namun PLTBm ini baru mampu mengaliri listrik pada masyarakat selama 12 jam saja, namun kedepan itu akan digabungkan sehingga tercipta interkoneksi listrik.
“Rencananya ketiga pembangkit listrik itu akan digabungkan melalui jaringan listrik sehingga hasilnya akan maksimal diterima warga,” katanya.
Bambang tak ingin para pemikir bicara mengenai potensi, tetapi bagaimana potensi tadi sudah diubah menjadi peluang-peluang ekonomi yang membawa kesejahteraan bagi masyarakat. “Seperti membuat pembangkit listrik dari bambu (ini), bagaimana potensi diubah menjadi hal yang kongkret,” tukuknya.
Dikatakan Bambang, Pemerintah Pusat melalui Bappenas sangat konsen sekali untuk membangun daerah-daerah kepulauan di Indonesia. “Kami bukan saja memastikan peningkatan elektrifikasi di Indonesia, tetapi juga bagaimana pemakaian energi baru dan terbarukan (EBT) yang ramah lingkungan bisa menjadi andalan ke depan,” ujarnya.
Menteri Bambang yang didampingi Wagub Sumbar Nasrul Abit dan dinanti kedatangannya oleh Bupati Yudas, Wabup Kortanius dan Kepala Bappeda Naslindo Sirait serta forkompinda Mentawai, mengungkapkan bahwa PLTBm yang dibangun di Mentawai sekarang ini, merupakan hibah sebesar 150 miliar dari Millenium Challenge Account (MCA) Indonesia, dengan pengembang PT Charta Putra Indonesia (CPI). Melalui Bappenas kemudian diserahkan ke Pemkab Kepulauan Mentawai untuk dikelola dengan baik, dan diharapkan bisa meningkatkan perekonomian masyarakat.
“Jadi yang paling penting, ada 3 desa di Siberut yang selama belum pernah dialiri listrik, mulai hari ini sudah terang benderang. Masyarakat sudah bisa menikmati listrik tenaga Biomassa khususnya bambu,” kata Bambang.
Sementara itu Bupati Mentawai Yudas Sabaggalet mengucapkan terima kasih kepada Menteri PPN/Bappenas Bambang yang memberikan perhatian penuh terhadap pembangunan Mentawai. “Dengan adanya PLTBm ini telah menambah elektrifikasi di Mentawai. Walaupun cuma meningkat 5%, tapi energi listrik berbasis bambu ini sangat menjanjikan ke depannya,” tuturnya.
Saat ini, sebut Yudas, elektrifikasi kabupaten yang dipimpinnya baru sebesar 56,6%. Itu sudah ditambah dengan 700 kW di tiga desa yang baru diresmikan PLTBm-nya, yang mampu melistriki 1.233 rumah, dan menaikkan rasio elektrifikasi sebesar 5%.
Listrik yang dihasilkan PLTBm kemudian dijual ke PT PLN (Persero), dan perjanjian kerja samanya telah ditanda tangani antara Bupati Mentawai dengan pihak PLN beberapa waktu yang lalu. Pemkab Kepulauan Mentawai mengelola pembangkit listrik tersebut melalui Perusda Kemakmuran Mentawai, dan PLN membeli listriknya serta membangun jaringan dari rumah ke rumah yang ada. Untuk membantu masyarakat, melalui CSR, saat ini PLN menggratiskan biaya pasang baru bagi 1.233 pelanggan di 3 desa yang ada.
Untuk menjamin ketersediaan bambu, Yudas menyatakan, saat ini sudah ditanam sekitar 250 hektar hutan bambu. “Saat ini sudah ditanam sekitar 250 hektar hutan bambu. Bambu ini tradisi dan budaya mentawai. Jadi cukup lah. Jadi, ini peluang bagi masyarakat untuk tanam bambu,” pungkasnya.
Disisi lain Bupati Kabupaten Kepulauan Mentawai Yudas Sabaggalet mengatakan sejumlah kendala yang saat ini dialami untuk pengelolaan PLTBm yang sudah dibangun di tiga desa di Mentawai adalah tenaga teknis yang ahli dalam pengelolaan. Namun demikian, Pemkab Mentawai siap mencarikan solusi agar masalah bisa teratasi.
Wakil Gubernur Sumatera Barat Nasrul Abit mengucapkan terima kasih dan memberikan apresiasi penghargaan tinggi kepada Kementerian PPN yang telah hadir dan berkarya ditengah-tengah masyarakat Sumbar, khususnya di Kepulauan Mentawai.
“Dengan hadirnya PLTBm di Kepulauan Siberut Energi Terbarukan bisa mengalirkan arus listrik di daerah terisolir jadi terang dan bisa mencerdaskan pendidikan anak bangsa serta meningkatkan kemakmuran dan kesejahteraan masyarakat di Mentawai,” kata Nasrul Abit.
Hal ini tentunya membuat masyarakat setempat mendapatkan dua keuntungan yakni listrik dan penghasilan dari berjualan bambu untuk pembangkit listrik. Energi terbarukan dengan menggunakan bambu itu merupakan yang pertama kalinya di Indonesia dan hal itu juga pertama kali bagi masyarakat yang belum teraliri listrik selama ini.
“Dengan ada aliran listrik selama 12 jam, masyarakat Silaguma dapat keuntungan dua sekaligus, yaitu dapat untuk dari penjualan bambu dan desa bisa terang dengan aliran PLTBm,” ucapnya.
Ia menjelaskan bahwa keberadaan PLTBm ini, selain terbarukan, juga menggunakan bambu yang kebetulan berasal dari masyarakat. Masyarakat menjual bambu yang mereka tanam kepada pembangkit listrik dengan harga Rp700 per kilogram.
“Mudah-mudahan dengan ada PLTBm ini, bisa meningkatkan perekonomian masyarakat setempat dan tidak ada lagi daerah tertinggal di Sumbar,” tuturnya.
Nasrul Abit menambahkan, Proyek PLTBm Silaguma ini diharapkan menjadi contoh konsep energi terbarukan berkelanjutan, dan tidak ada lagi daerah 3T yaitu Terdepan, Terluar, dan Tertinggal di Sumbar.
Peresmian PLTBm pertama di Sumbar ini dihadiri Dirjen Energi Baru, Terbarukan dan Konservasi Energi Kementerian ESDM FX Sutijastoto, Dirjen Bisnis Regional Sumatera Wiluyo Kusdwiharto, Kepala Bappeda Sumbar, Sekda Mentawai, Forkopimda dan pimpinan OPD Mentawai. (ms/ald)

Baca Juga:  Prof. Syafruddin Karimi ; Kesenjangan Aset di Indonesia Tinggi

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *